By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Impactly AgencyImpactly AgencyImpactly Agency
  • Impactly
  • Layanan
    • Jasa SEO
    • Jasa SEO Toko Online
    • Jasa Google Ads
    • Jasa Meta Ads
    • Jasa Website
    • Jasa Blog
  • SEO
    • Research Keyword
    • Technical SEO
    • On Page SEO
    • Local SEO
    • Off Page SEO
  • Digital Marketing
  • Bisnis
Font ResizerAa
Impactly AgencyImpactly Agency
Font ResizerAa
  • Tentang Kami
  • Jasa Optimasi SEO
  • Kontak Kami
  • Layanan
    • Jasa SEO
    • Jasa SEO Toko Online
    • Jasa Google Ads
    • Jasa Meta Ads
    • Jasa Website
    • Jasa Blog
  • Kategori
    • Digital Marketing
    • SEO
    • Bisnis
    • Berita
Follow US
© 2023 - 2024 Impactly. All rights reserved.
Home > SEO > Soft Selling: Teknik Jualan Santai yang Bikin Pembeli Nyaman
SEO

Soft Selling: Teknik Jualan Santai yang Bikin Pembeli Nyaman

Pandy Apriyandi
Last updated: Kam, 24-Apr-2025 10:51
By Pandy Apriyandi 259 Views Add a Comment 1
Share
soft selling adalah
SHARE

Pernah merasa risih nggak sih ketika ada penjual yang langsung “nawar” tanpa basa-basi? Kadang, cara jualan seperti itu malah bikin kita enggan untuk membeli. Nah, di sinilah pentingnya yang namanya soft selling.

Soft selling itu adalah cara jualan yang lebih santai dan nggak terkesan memaksa, jadi pelanggan bisa merasa nyaman tanpa tekanan.

Di artikel ini, Impactly akan bahas apa itu soft selling, kenapa teknik ini bisa sangat efektif, dan bagaimana cara kamu bisa menerapkannya dalam bisnismu. Yuk, simak lebih lanjut!

Apa itu Soft Selling?

Apa yang dimaksud dengan soft selling? Soft selling adalah teknik penjualan secara halus yang mengutamakan hubungan yang baik antara penjual dan pembeli tanpa menekan atau memaksa pembeli untuk segera melakukan transaksi serta membuat pembeli tidak merasa sedang ditawarkan.

Dalam soft selling, tujuan utamanya adalah membangun kepercayaan dan memberikan informasi yang bermanfaat kepada pelanggan dengan cara yang lebih santai dan alami.

Alih-alih langsung menawarkan produk atau jasa, soft selling berusaha lebih kepada mendengarkan kebutuhan pelanggan, memberikan solusi yang sesuai, dan membiarkan pembeli merasa nyaman dalam proses pengambilan keputusan.

Dengan kata lain, soft selling itu lebih tentang menjalin komunikasi yang positif dan memberi pelanggan ruang untuk mempertimbangkan pilihan mereka. Teknik ini sangat efektif untuk membangun loyalitas pelanggan dalam jangka panjang karena pelanggan merasa dihargai dan tidak tertekan.

Keuntungan Soft Selling

Apa keuntungan dari metode soft selling? Berikut beberapa keuntungan menggunakan soft selling dalam strategi penjualan:

  1. Membangun Kepercayaan Pelanggan
    Soft selling membantu menciptakan hubungan yang lebih baik antara penjual dan pembeli. Pelanggan merasa dihargai karena penjual tidak memaksa mereka untuk membeli, sehingga kepercayaan pun terbentuk.
  2. Mengurangi Risiko Penolakan
    Karena pendekatannya lebih halus dan tidak memaksa, risiko pelanggan merasa terganggu atau menolak tawaran jadi lebih kecil. Ini membuat peluang closing menjadi lebih besar dan akan meningkatkan closing rate.
  3. Meningkatkan Loyalitas Pelanggan
    Pelanggan yang merasa dihargai dan didengarkan cenderung lebih loyal. Soft selling berfokus pada membangun hubungan jangka panjang yang bisa menghasilkan pembelian ulang (repeat order) dan membuat pelanggan merekomendasikan ke orang lain.
  4. Memberikan Nilai Lebih pada Pelanggan
    Dengan mengutamakan edukasi dan solusi atas kebutuhan pelanggan, soft selling memberi mereka nilai lebih. Pelanggan merasa mereka mendapatkan informasi yang berguna, bukan hanya sekadar menawarkan produk secara umum.
  5. Mengurangi Tekanan dalam Proses Penjualan
    Teknik ini membuat pelanggan merasa lebih nyaman dan tidak terburu-buru dalam membuat keputusan. Proses pembelian pun jadi lebih menyenangkan dan tidak terasa seperti sebuah tekanan.

Dengan menggunakan soft selling, penjual dapat membangun hubungan yang lebih baik dan berkelanjutan dengan pelanggan, yang pada akhirnya menguntungkan kedua belah pihak.

Baca juga: Begini Cara Mengukur Keberhasilan Soft Selling dengan Tepat

Ciri-ciri Soft Selling dan Contohnya

Berikut adalah ciri-ciri soft selling beserta contohnya:

  1. Pendekatan yang Ramah dan Santai
    Soft selling lebih mengutamakan pendekatan yang hangat dan tidak terburu-buru. Penjual cenderung berusaha membangun hubungan yang baik terlebih dahulu dengan calon pembeli.

    Contoh:
    Seorang agen properti yang lebih banyak bertanya tentang kebutuhan keluarga pembeli, seperti rumah impian mereka, tanpa langsung menawarkan unit properti.
  2. Fokus pada Edukasi dan Informasi
    Soft selling mengedepankan pemberian informasi yang bermanfaat dan edukatif. Penjual membantu pembeli memahami produk atau layanan, serta memberikan solusi yang relevan dengan kebutuhan mereka.

    Contoh:
    Seorang konsultan kesehatan yang memberi penjelasan tentang manfaat gaya hidup sehat sebelum merekomendasikan produk suplemen.
  3. Membangun Kepercayaan Pelanggan
    Soft selling lebih berfokus pada membangun hubungan dan kepercayaan, bukan sekadar transaksi cepat. Penjual mendengarkan kebutuhan pelanggan dan memberikan solusi terbaik tanpa terkesan mendesak.

    Contoh:
    Seorang penjual mobil yang mengajak pembeli untuk test drive dan mendengarkan kebutuhan mobil sesuai dengan gaya hidup pelanggan, tanpa langsung menawarkan paket pembelian.
  4. Pendekatan Jangka Panjang
    Soft selling bukan tentang penjualan satu kali, melainkan berfokus pada hubungan jangka panjang. Penjual ingin membangun loyalitas dengan pelanggan, agar mereka kembali lagi di masa depan.

    Contoh:
    Seorang pelatih kebugaran yang memberikan tips tentang pola makan sehat melalui media sosial, bukan hanya menjual paket langganan kelas olahraga.
  5. Tidak Memaksa Pembeli
    Dalam soft selling, penjual tidak menekan atau memaksa pelanggan untuk segera membeli. Mereka memberi ruang bagi pelanggan untuk mempertimbangkan keputusan mereka tanpa rasa terburu-buru.

    Contoh:
    Seorang barista yang memberikan pilihan jenis kopi kepada pelanggan dan menjelaskan karakteristik rasa setiap kopi, tanpa menekan mereka untuk memilih satu jenis.
  6. Menyesuaikan Penawaran dengan Kebutuhan Pelanggan
    Penjual dalam soft selling cenderung menyesuaikan produk atau layanan dengan kebutuhan spesifik pelanggan, bukan sekadar menawarkan produk secara umum.

    Contoh:
    Seorang desainer interior yang bertanya tentang gaya hidup dan preferensi pelanggan sebelum memberikan rekomendasi desain ruangan yang sesuai.

Soft selling adalah pendekatan penjualan yang lebih mengutamakan hubungan, kepercayaan, dan kenyamanan pelanggan. Dengan pendekatan yang santai dan edukatif, penjual menciptakan pengalaman yang positif dan jangka panjang bagi pelanggan.

Cara Menggunakan Soft Selling yang Efektif

Berikut adalah beberapa cara menggunakan soft selling yang efektif untuk meningkatkan penjualan:

1. Bangun Hubungan yang Baik dengan Pelanggan

Sebelum langsung menawarkan produk, pastikan untuk mengenal pelanggan lebih baik. Ajak mereka berbicara, dengarkan dengan seksama, dan cobalah memahami kebutuhan atau masalah yang mereka hadapi. Dengan cara ini, pelanggan merasa dihargai dan lebih terbuka untuk mendengarkan tawaran Anda.

Contoh:
Jika Anda seorang agen perjalanan, ajak pelanggan berbicara tentang pengalaman liburan mereka sebelumnya, apa yang mereka suka atau tidak suka, baru kemudian sesuaikan rekomendasi liburan.

2. Fokus pada Manfaat, Bukan Fitur

Alih-alih langsung menjelaskan fitur produk atau layanan, coba fokuskan percakapan pada bagaimana produk tersebut dapat memenuhi kebutuhan atau menyelesaikan masalah pelanggan. Tunjukkan manfaat yang akan mereka dapatkan.

Contoh:
Jika Anda menjual alat kesehatan, alih-alih hanya menjelaskan spesifikasi teknis, bicarakan bagaimana alat tersebut bisa membantu pelanggan merasa lebih sehat atau nyaman dalam kehidupan sehari-hari.

3. Gunakan Pendekatan yang Tidak Terlihat Memaksa

Soft selling adalah tentang memberikan informasi yang cukup tanpa memaksa pembeli untuk segera membeli. Anda bisa memberikan saran atau rekomendasi, tetapi biarkan pelanggan memutuskan dengan nyaman.

Contoh:
Ketika seorang pelanggan masuk ke toko pakaian, Anda bisa memberi tahu mereka tentang penawaran atau koleksi terbaru, tetapi biarkan mereka memilih tanpa merasa ditekan untuk membeli.

4. Berikan Edukasi yang Bermanfaat

Jadikan diri Anda sebagai sumber informasi yang bermanfaat untuk pelanggan. Dengan memberikan edukasi tentang produk, industri, atau masalah yang dihadapi pelanggan, Anda menunjukkan bahwa Anda peduli dengan kebutuhan mereka, bukan hanya berusaha menjual.

Contoh:
Seorang ahli kecantikan bisa memberikan tips tentang perawatan kulit yang sesuai dengan jenis kulit pelanggan, baru kemudian merekomendasikan produk yang dapat membantu mereka.

5. Jadi Pendengar yang Baik

Mendengarkan pelanggan dengan penuh perhatian adalah salah satu elemen terpenting dalam soft selling. Ketika pelanggan merasa didengarkan, mereka lebih cenderung mempercayai Anda dan merasa nyaman dengan saran yang diberikan.

Contoh:
Seorang konsultan bisnis yang mendengarkan tantangan yang dihadapi klien sebelum menawarkan solusi atau layanan yang sesuai.

6. Tunjukkan Empati

Soft selling bukan hanya tentang menjual produk, tetapi juga tentang menunjukkan empati terhadap masalah atau kebutuhan pelanggan. Ketika Anda bisa menghubungkan diri dengan pelanggan dan memahami perasaan mereka, Anda akan lebih mudah membangun kepercayaan.

Contoh:
Jika seorang pelanggan datang dengan masalah kesehatan, tunjukkan perhatian dan empati sebelum merekomendasikan solusi atau produk yang bisa membantu mereka.

7. Jaga Komunikasi yang Konsisten

Soft selling juga melibatkan komunikasi jangka panjang. Jangan hanya terfokus pada penjualan satu kali, tetapi bangun hubungan yang berkelanjutan dengan pelanggan. Kirimkan pembaruan atau tawaran khusus yang relevan secara periodik.

Contoh:
Setelah transaksi, kirim email terima kasih atau cek perkembangan produk yang mereka beli. Juga bisa menawarkan diskon atau rekomendasi produk lain yang sesuai.

8. Beri Ruang bagi Pelanggan untuk Berpikir

Jangan buru-buru mendesak pelanggan untuk membeli. Biarkan mereka mengambil keputusan secara mandiri. Anda cukup memberi informasi yang mereka butuhkan dan biarkan mereka merasa nyaman untuk memutuskan kapan mereka siap membeli.

Contoh:
Jika Anda bekerja di bidang properti, setelah menunjukkan beberapa pilihan, Anda bisa berkata, “Ambil waktu Anda untuk memikirkan pilihan ini, dan beri tahu saya jika Anda ingin melihat lebih banyak properti.”

Soft selling yang efektif bukan tentang tekanan atau paksaan, melainkan tentang membangun hubungan dan memberikan nilai lebih bagi pelanggan. Dengan mendengarkan, memberikan informasi yang relevan, dan menunjukkan empati, Anda dapat membangun kepercayaan yang mengarah pada penjualan jangka panjang.

Contoh Penggunaan Soft Selling

Berikut adalah beberapa contoh penggunaan soft selling dalam berbagai konteks penjualan:

1. Contoh Soft Selling pada Penjualan Produk Kecantikan

Situasi:
Seorang pelanggan datang ke toko kosmetik dan bertanya tentang produk perawatan kulit.

Pendekatan Soft Selling:
“Oh, kamu punya kulit yang cenderung kering ya? Produk ini mungkin bisa membantu melembapkan kulit kamu. Selain itu, ada juga serum yang bisa memberikan hidrasi lebih dalam. Tapi kalau kamu belum yakin, kita bisa coba dulu tester-nya, ya!”

2. Contoh Soft Selling pada Penjualan Mobil

Situasi:
Seorang pelanggan mengunjungi dealer mobil dan tertarik dengan mobil sport, tetapi belum memutuskan untuk membeli.

Pendekatan Soft Selling:
“Jika kamu mencari mobil dengan performa tinggi dan kenyamanan, mobil ini memang pilihan yang bagus. Tapi saya tahu, mobil sport tidak selalu cocok untuk semua orang. Kalau kamu ingin, kita bisa jadwalkan test drive dulu, supaya kamu bisa rasakan langsung sensasinya!”

3. Contoh Soft Selling pada Penjualan Produk Elektronik

Situasi:
Seorang pelanggan masuk ke toko elektronik dan melihat berbagai pilihan laptop.

Pendekatan Soft Selling:
“Laptop ini memang bagus untuk pekerjaan sehari-hari, tapi kalau kamu lebih sering mengedit video atau gambar, mungkin laptop ini yang lebih cocok. Kalau kamu suka, kita bisa coba lihat spesifikasi lebih detail atau bandingkan dengan model lainnya.”

Tantangan dalam Menerapkan Soft Selling

Tentu! Berikut adalah penjelasan tentang tantangan dalam menerapkan soft selling dengan bahasa yang lebih santai:

1. Butuh Waktu Lebih Lama

Soft selling itu tidak instan, karena lebih fokus untuk membangun hubungan dengan pelanggan. Jadi, kalau kamu berharap langsung ada penjualan cepat, itu tidak akan terjadi dalam sekejap. Butuh waktu untuk membuat pelanggan merasa nyaman dan percaya

Solusi:
Sabar aja, karena soft selling itu investasi jangka panjang. Yang penting, kamu tetap fokus kasih pengalaman positif dan informasi yang berguna buat pelanggan, meskipun hasilnya baru kelihatan nanti.

2. Butuh Keterampilan Komunikasi yang Baik

Dalam soft selling, kamu harus jago ngomong dan jadi pendengar yang baik untuk mendengarkan kebutuhan pelanggan. Tapi tidak semua orang punya kemampuan komunikasi yang oke, kan? Kalau salah ngomong atau ngasih info, bisa-bisa malah bikin pelanggan tidak nyaman.

Solusi:
Bisa kok latihan! Penjual atau tim kamu perlu latihan supaya bisa ngobrol dengan empati, bisa menjelaskan sesuatu dengan santai, dan selalu siap bantu pelanggan buat nyari solusi yang cocok.

3. Sulit Mengukur Keberhasilan

Karena soft selling lebih ke pendekatan jangka panjang, bukan langsung dorong orang buat beli, kadang susah banget ngukur seberapa sukses teknik ini. Kamu nggak bisa langsung lihat hasilnya, kayak beli sekarang, bayar sekarang.

Solusi:
Kamu bisa fokus lihat hal-hal lain, seperti berapa banyak pelanggan yang balik lagi, berapa lama mereka berinteraksi dengan brand kamu, atau apakah mereka jadi lebih loyal. Jangan cuma lihat dari jumlah penjualan langsung.

4. Jangan Terlihat Terlalu Memaksa

Terkadang, meskipun tujuannya tidak mau terkesan memaksa, kita bisa jadi tidak tahu kapan harus mulai ngajak beli. Terlalu santai juga bisa bikin pelanggan bingung, tidak tahu kapan mereka harus ambil keputusan.

Solusi:
Latih tim untuk lebih peka ke sinyal-sinyal dari pelanggan. Kalau mereka mulai tanya lebih banyak atau menunjukkan minat, itu saat yang tepat untuk memberikan sedikit informasi lebih tentang produk tanpa terkesan memaksa.

5. Tidak Semua Pelanggan Suka Pendekatan Ini

Ada juga pelanggan yang lebih suka pendekatan langsung dan to the point tanpa banyak basa-basi. Soft selling mungkin terasa terlalu lambat atau tidak memberikan solusi cepat buat mereka.

Nggak masalah kok! Untuk tipe pelanggan yang lebih suka cepat, kamu bisa sesuaikan pendekatan. Soft selling bisa jadi cuma satu bagian dari strategi penjualan yang lebih besar, jadi tetap fleksibel sesuai kebutuhan pelanggan.

6. Bersaing dengan Penjual yang Lebih Agresif

Di pasar yang penuh pesaing, banyak yang pakai cara jualan yang lebih keras dan langsung, seperti kasih diskon besar atau tawaran menarik lainnya. Ini kadang bikin soft selling terasa kurang efektif.

Solusi:
Fokus pada nilai jangka panjang. Bikin pelanggan sadar kalau hubungan yang dibangun lewat soft selling bakal lebih menguntungkan buat mereka, karena mereka tidak hanya membeli produk, tapi juga mendapatkan pengalaman yang lebih personal.

7. Membangun Kepercayaan Itu Susah

Kalau pelanggan baru pertama kali kenal sama produk atau layanan kita, membangun kepercayaan itu tidak mudah. Mereka bisa jadi ragu buat beli atau percayain produk yang ditawarkan.

Solusi:
Bangun kredibilitas dengan memberikan testimoni dari pelanggan lain atau bisa juga lewat konten yang berguna dan memberikan nilai tambah. Juga, kasih garansi atau kemudahan retur supaya pelanggan lebih yakin.

8. Teknologi Bisa Menjadi Halangan

Soft selling itu lebih banyak interaksi pribadi, jadi kalau cuma pakai teknologi atau otomatisasi, kadang terasa kurang personal. Padahal, teknologi bisa membantu mengoptimalkan penjualan.

Solusi:
Gunakan teknologi dengan bijak. Misalnya, kamu bisa pakai email marketing yang personal, atau pakai sistem CRM buat memantau interaksi pelanggan. Jadi, meskipun pakai teknologi, tetap bisa menjaga hubungan yang personal.

Memang, menerapkan soft selling ada tantangannya, seperti butuh waktu lebih lama, keterampilan komunikasi yang tinggi, atau kesulitan dalam mengukur hasil.

Tapi, dengan kesabaran, latihan, dan penyesuaian pendekatan sesuai dengan pelanggan, soft selling bisa jadi strategi jitu untuk membangun hubungan yang lebih baik dan loyalitas pelanggan. Jadi, tetap semangat dan nikmati prosesnya!


Jadi, intinya soft selling itu bukan soal jualan paksa, tapi lebih ke membangun hubungan yang saling menguntungkan antara kamu dan pelanggan. Dengan pendekatan yang lebih santai, informatif, dan penuh empati, pelanggan nggak cuma merasa dihargai, tapi juga lebih loyal dan percaya sama brand yang kamu tawarkan.

Memang butuh waktu dan kesabaran, tapi hasilnya bisa sangat berharga dalam jangka panjang. Jadi, kalau kamu mau sukses dengan soft selling, pastikan kamu selalu fokus pada kebutuhan pelanggan dan berikan nilai lebih di setiap interaksi. Selamat mencoba!

Subscribe to Our Newsletter
Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Share This Article
Facebook Twitter Pinterest Whatsapp Whatsapp LinkedIn Telegram Threads Copy Link
Berikan Reaksi Kamu Tentang Artikel Ini
Love1
Sad0
By Pandy Apriyandi
Follow:
Seorang konsultan SEO dan performance marketing di Impactly Agency. Penulis ingin membagikan pengalamannya dalam menghandle digital marketing pada website bisnis di berbagai industri mulai dari website baru dan lama hingga website kecil dan besar (enterprise). Dengan pengalaman digital marketing sejak tahun 2020, Pandy sudah memberikan Impact ke berbagai bisnis untuk menghasilkan lebih dari 220ribu lead dari berbagai media digital (omnichannel), mendatangkan lebih dari 7 juta visitor/klik dari Google tanpa beriklan, dan memperkuat branding di mesin pencari.
Previous Article keyword intent Search Intent: Kunci Utama Menulis Artikel Tepat Sasaran
Next Article indikator keberhasilan soft selling Begini Cara Mengukur Keberhasilan Soft Selling dengan Tepat
Leave a comment Leave a comment
Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ad image
You Might Also Like
technical seo checklist
Mau Cepat Ngeranking? Ini Trik Technical SEO yang Ampuh
Jum, 14-Feb-2025
search volume adalah
Yuk Pahami Search Volume Keyword Sebelum Nulis Artikel
Sel, 06-Mei-2025
4 manfaat penerapan seo bagi perusahaan
15+ Manfaat SEO untuk Bisnis dan Perusahaan, Wajib Tahu!
Sel, 02-Sep-2025
apa itu keyword
Mengenal Arti Keyword, Jenis dan Contohnya pada SEO
Rab, 09-Apr-2025

Tentang Impactly

Impactly adalah konsultan sekaligus Digital Marketing Agency profesional dan terpercaya yang berorientasi data, transparan, dan menghasilkan kampanye yang Impactful untuk bisnis kamu.

Layanan
  • Jasa SEO
  • Jasa SEO Toko Online
  • Jasa Google Ads
  • Jasa Meta Ads
  • Jasa Website
  • Jasa Toko Online
  • Jasa Blog
Sitemap
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Studi Kasus
  • Blog
  • Terms and Conditions
  • Privacy Policy
Hubungi Kami
Jakarta Timur, DKI Jakarta, Indonesia
hi.impactly@gmail.com
082-12345-2127
Impactly AgencyImpactly Agency
© 2023 - 2025 Impactly. All rights reserved.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?